Cowok Tak Perlu Minder
“Oke, gue bakal kenalan sama wanita itu ! Harus !”
Dengan penuh tekad dio melangkahkan kakinya, meninggalkan kursi dan sepiring makanan dari tukang siomay langganannya. Pandangannya terfokus 7 meter di depan dahi, dan detak jantungnya pun semakin berakselerasi seiring dengan langkah yang diambilnya. 30 cm demi 30 cm dia letakkan kakinya. Jaraknya hanya selemparan baru saja dari bidadari ketika wanita itu melempar pandangannya sekilas dan tanpa sengaja bertatapan mata dengan Dio.
“ADUH… !”
Yap… aduh. Untuk sepersekian detik jantungnya berhenti dan entah apa salah sederet huruf tersebut sampai disebut berkali-kali di pikirannya sembari menutupi gelagatnya yang sudah terlihat aneh.
“Mikir donk lu ! dia itu cewek tercantik di fakultas, nah elu? udah muka item, dekil, belum mandi pula ! NGACA !!”
Argumen dari pikirannya sendiri bahkan tidak berpihak kepada niatnya, dan hanya membuatnya makin terlihat aneh. Tidak tahan dengan siksaan tersebut, dio kembali melangkah maju dan kemudian berbelok, melewati bidadari tersebut secepat kilat tanpa nomor HP dan bahkan tanpa tahu nama dari wanita tersebut. “Yaudah deh, seenggaknya gw udah berusaha, ntar kalo jodoh juga gak kemana, besok aja dah gw ngajak dia kenalan toh juga kemaren gak jadi kiamat, masih banyak waktu“ ujarnya menjustifikasi perbuatannya sembari berusaha mencari teman-temannya, meninggalkan kembang kampus yang masih memandangi laptopnya, sendirian.
Pernahkah kalian mengalami hal mirip seperti yang dialami Dio? Terintimidasi oleh keindahan dari
salah satu makhluk ciptaan-Nya yang bernama wanita bahkan walau hanya dengan tatapan mata yang tidak disengaja? Atau mungkin kalian pernah mensyaratkan suatu kualitas sebelum kalian “merasa pantas” dalam mendekati wanita, seperti harus ganteng, kaya, dan sejenisnya? Percayalah saya pernah berada dalam posisi kalian dan saya tahu bagaimana rasanya.
Perasaan atau pikiran yang ada pada pikiran Dio sebenarnya sangat realistis hanya jika derajat Dio lebih rendah daripada wanita tersebut. Dan kenyataanya derajat kita semua sama, baik di depan hukum maupun di depan-Nya. Dio tidak sanggup menghampiri wanita tersebut karena dia TIDAK PD terhadap dirinya sendiri sehingga dia mengabaikan peluangnya untuk dikenal oleh wanita tersebut.
Pernahkah kalian berusaha melihat dari sisi lainnya? Mungkin saja dia adalah wanita tercantik diseluruh fakultas, tapi seperti kata pepatah “tiada gading yang tak retak”, dia juga adalah manusia yang punya banyak kekurangan, seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya kelak, mahasiswa yang galau besok TA atau enggak, anak kos-kosan yang akhir bulan akrab dengan mie instant dan juga doyan barang diskonan.
Sewaktu kalian bisa memahami sudut pandang tersebut, kalian akan melihatnya sebagai manusia biasa, sama seperti kita, dan kalian tidak akan menyimpan lagi rasa minder saat berkenalan dengannya. Dan disaat banyak laki-laki yang bertingkah aneh-aneh saat bersama dia, kamu akan terlihat sebagai pria yang berbeda, pria yang memperlakukannya seperti seorang manusia dan teman, bukan sebagai malaikat yang harus selalu disanjung.
Ketika kita memilih untuk berkenalan, ada sekian persen kemungkinan kalau kita akan mendapatkan respon yang tidak bersahabat. Namun bila kita minder dan memilih untuk mundur, maka 100% kemungkinannya kita tidak akan disukai atau bahkan DICINTAI oleh wanita tersebut karena dia tidak mengenal kepribadianmu yang menarik dan spesial.
“Jadi… Apa Pilihanmu ?”
(SoalCinta.com)
